Menjemput Rejeki


Assalamu’alaikum sahabat,

Kali ini kita akan bahas apa itu rejeki, pada umumnya rejeki identik sekali dengan harta kekayaan padahal rejeki adalah hal apa saja yang bermanfaat yang Allah halalkan untuk kita, entah berupa pakaian, makanan, sampai pada istri. Itu semua termasuk rezeki. Begitu pula anak laki-laki atau anak peremupuan termasuk rezeki. Termasuk pula dalam hal ini adalah kesehatan, pendengaran dan penglihatan.

Lalu bagaimana cara kita menjemput rejeki?

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866).

Maksud dari hadits ini adalah bahwa kita diperintah untuk mencari rezeki dengan cara yang baik atau diperintahkan untuk “ajmilu fit tholab” maksudnya kita diperintahkan untuk tidak berputus asa dalam menjemput rejeki dan tidak mencelakakan diri dalam mencari rejeki.

kita tahu bahwa Allah telah menjamin atas rejeki tiap makhluknya baik yang berakal maupun yang tidak berakal, sesuai firman Allah “Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya. (QS. Hud: 6).” namun bekan berarti kita berpangku tangan, kita tetap harus ikhtiar agar mendapat rejeki yang diridhai Nya.

Pada hakekat dari rejeki kita adalah apa yang kita konsumsi dan apa yang kita manfaatkan. Sementara yang kita kumpulkan belum tentu menjadi jatah rejeki kita.

Dalam hadis dari Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat. (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya).

Karena itu, sekaya apapun kita, sebanyak apapun penghasilan yang kita dapati, kita tidak akan mampu melampaui jatah rejeki Nya.

Orang yang punya 1 ton beras, dia hanya akan makan sepiring saja. Orang yang memiliki 100 mobil, dia hanya akan memanfaatkan 1 mobil saja. Orang yang memiliki 100 rumah, dia hanya akan menempati 1 ruangan saja.

Padahal semua yang kita kumpulkan, sudah pasti akan dihisab oleh Allah. Oleh sebab itu dianjurkanlah bagi tiap-tiap kita menyedekahkan, menginfaqan dan saling berbagi satu sama lain dalam keikhlasan

Demikian, Allahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s