Takutmu Lebih Besar Dari Yakinmu ( bagian 1)


Teringat sekali saat aku belajar mengendarai sepeda motor disore hari yang cerah di salah satu daerah kota Bandung, saat itu aku ditemani sahabatku, riski. Dengan hati yang penuh ketakutan, kupaksakan diri untuk menghidupkan sepeda motor bebek berwarna merah milik pamanku itu, lalu dengan aba-aba sahabatku itu perlahan mulai kutarik gas motor itu, perlahan berjalan.

Karenanya aku jatuh bangun, agar bisa, seringkali aku melakukan kesalahan dengan mengerem motor tersebut secara paksa, sehingga membuat aku terjatuh. Namun perlahan tapi pasti, aku sudah mulai fasih menjalankannya, meski takut dalam diri selalu ada.

Bisa karena terbiasa, terbiasa karena terpaksa!! Kuncinya hanyalah satu yaitu YAKIN!!

Yah, itu kalimat yang diutarakan sahabatku, riski. Menurutnya, aku belum lancar mengendarai sepeda motor karena masih ada takut dalam diri, tak ada keberanian, tak yakin akan kemampuan diri,sehingga untuk memunculkan keberanian tersebut aku harus membiasakan diri mengendarai sepeda motor. Sehingga apabila sudah biasa, tentu saja akan fasih mengendarainya, karena kuatnya keyakinan atas kemampuan diri.

Dari kejadian itu, melalui sudut pandang yang berbeda, ku alihkan pandanganku kepada diri akan pengabdianku kepada Illahi, maka muncul beberapa pertanyaan, sudah benarkah yakin kita terhadap Illahi? Kalau sudah, seberapa yakinkah itu? Masyaa Allah, sungguh pertanyaan yang meluluhlantahkan diri.

Jelas sekali, ketakinan kita terhadap Allah, tidak sama seperti yakinnya Nabi Allah, Ibrahim as. Dengan keyakinannya kepada Allah ia terselamatkan oleh panasnya api yang akan membakarnya. Ia, Ibrahim as, jelas percaya dan sangat yakin bahwa api itu akan menghanguskannya, membuat ia terbunuh dengan perihnya terbakar, tapi yakinnya terhadap adanya Allah jauh lebih besar dari panasnya api. Percayanya ia kepada sang Illahi, jauh lebih besar dari percayanya ia bahwa api itu panas.

Lain hal dengan anaknya, Nabi Allah Ismail as, dengan keyakinannya bahwa mimpi ayahanda Ibrahim as adalah benar dari Allah, maka ia beranikan dirinya untuk disembelih oleh ayahnya Ibrahim, takutnya ia terhadap kehilangan nyawanya kalah besar atas takutnya iaa kepada Allah, hingga atas yakinnya itu, atas percayanya kepada Illahi, posisinya digantikan pada seekor domba, terselamatkanlah ia.

Pun dengan Musa, yakinnya kepada Allah, bahwa Allah akan menyelamatkannya. Maka ia bisa membelah lautan untuk diseberangi atas kuasa-Nya.

Sahabat, melalui contoh diatas, yang sangat patut kita tiru, besarnya keyakinan kita kepada Allah harusnya lebih besar dari apapun yang kita yakini selain-Nya. Maka sebagai wujud keyakinan kita kepada-Nya wajiblah kiranya kita menaati apa yang Allah perintahkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s