Diri Yang Terabaikan


Baru-baru ini kita selalu menjumpai dalam setiap kesempatan berita, bahwasannya ada lima anak yang ditelantarkan kedua orangtuanya, rumah yang teramat berantakan seperti tak dihuni berbulanbulan, salah satu anak tak diberi izin pulang bahkan untuk rehat sejenak diheningnya malam, hal ini terjadi mungkin lebih dari satu bulan, ceritanya.

Singkat cerita, selama sebulan itu sang anak tidur dan beristirahat ditempat tetangga terdekat dan terkadang tidur di pos penjaga, satpam. Hal ini membuat para warga sekitar resah dan geram akibat ulah kedua orangtuanya, hingga akhirnya suatu ketika salah satu warga melapor kejadian ini kepada pihak kepolisian setempat.

Berita ini geger senusantara, media televisi, koran dan lainnya pun tak mau ketinggalan barang sedikitpun setiap kejadian-kejadian yang terjadi pada kasus ini. Hingga tak cuma kepolisian, bahka komisi perlindungan anak indonesia atau KPAI hingga beberapa mentri terkait pun turun tangan dalam kasus ini.

Serupa Tapi Tak Sama

Yah, cerita diatas mungkin hanya satu dari ratusan bahkan mungkin ribuan kasus orangtua yang menelantarkan anak di negriku ini, Indonesia. Banyak hal, lihat saja disudut jalan kota, penuh dengan anak-anak yang meminta-minta sedang usianya baru beranjak sepuluh tahun kebawah. Sayang sungguh sayang kasus seperti ini jarang sekali mendapat perhatian layaknya kasus diatas.

Miris, mungkin melihatnya. Tapi ini nyata berada dinegriku tercinta, Indonesia.
Dalam tulisan ini penulis juga ingin bercerita tentang kedua orangtua yang mengabaikan anaknya.

Terabaikan

Sebut saja namanya abay, ia berumur lima tahun saat itu, ia anak pertama dari pasangan adin dan ati, ia memiliki dua adik yang masih batita, yakni ina berumur tiga tahun dan fani yang masih berumur tiga bulan.

Singkat cerita adin dan ati kedua orangtua itu berselisih pendapat, mereka berdebat tentang kehidupan keluarga mereka, banyak hal dari adin yang bermalas-malasan, suka main judi hingga hutang dimana-mana, suka mabuk minuman hingga lupa akan anak dan istrinya. Pun dengan ati, yang selalu merasa benar, mengatur keluarganya dengan berlaga pemimpin rumahtangga. Ironis memang keluarga ini.

Singkat cerita ati sebagai seorang ibu yang merasa dirinyalah yang bertanggung jawab atas hancurnya keluarga ini, ingin memperbaikinya dengan cara pergi meninggalkan ketiga anaknya jauh hingga terpisahkan jarak hanya untuk mengais rejeki agar lunaslah hutang-hutang keluarganya, agar bahagialah ketiga anaknya. Pun dengan adin yang ikut jua pergi walau tak sejauh ati tapi tetap saja ia meninggalkan ketiga anaknya, tetap dengan sifat buruknya.

Lalu kemana abay dan kedua adiknya, ina dan fani? Pada saat kedua orangtuanya pergi, abay masih dalam keadaan sakit, terbaring diatas kasur, karwna patah lengan kanannya. Sedang ina dan fani dalam keadaan yang membutuhkan kehangatan kasih sayang dari kedua orangtuanya, karena usia mereka yang masih batita. Mereka ditinggalkan dirumah neneknya, mereka diasuh disana tanpa kasih sayang, tanpa kehangatan ibu juga bapaknya.

Apakah ini suatu penelantaran? Atau sekedar pengabaian sesaat demi kebahagiaan menurut orangtuanya? Jelas ini adalah pilihan sang orangtua, mereka mengabaikan abay dan adiknya demi “kebahagiaan” menurut pandangan mereka. Padahal jelas, diusia mereka tak ada kebahagiaan selain dekat dengan ibu dan bapaknya, orangtuanya.

Orangtua seperti ini apakah pantas disebut orangtua yang dzolim, durhaka terhadap anak-anaknya? Mungkin saja ia, karena anak adalah amanah bagi orangtuanya yang diberikan oleh sang Kholik, jika amanah itu di abaikan, maka durhakalah ia. DURHAKALAH IA…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s