Wahai Engkau Kepompong


Suatu malam aku teringat tentang dirimu, wahai engkau si ulat bulu. Yah, aku mengingatmu saat dirimu masih menjadi si ulat bulu yang buruk rupa, saat pertama kali bertemu denganmu, melihatmu dari kejauhan, beserta teman-teman sebaya yang selalu memuji kecantikanmu, jujur saat itu aku heran mengapa bisa mereka mengunjingi akan kecantikanmu seakan mereka gatal saat melihatmu, sementara aku tidak. Diam, tak mengikuti perbincangan itu. Entahlah, mengappa seperti itu.

Dua tahun berlalu, engkau masih saja ulat bulu yang ku kenal. Yah engkau masih si ulat bulu yang cantik tapi membuat gatal orang-orang disekitarmu, engkau si ulat bulu yang seakan tak memiliki Aqidah, engkau seakan penuh dengan ajaran pluralisme yang selalu mengutamakan fasion, kecantikan, pergaulan yang penuh dengan hura. Pun dirimu bekerja disalah satu tempat karaoke malam dikota bandung yang terlingkari kemaksiatan setiap waktunya.

Hampir tiga tahun berlalu, dari saat pertama kali kita bertemu, tanpa kenal satu sama lain. Diri ini tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak untuk bisa dekat denganmu, menjadi sahabatmu, menjadi adikmu. Tapi, berawal di bulan ramadhan mungkin Allah takdirkan kita menjadi sahabat, sahabat seiman. Saat itu, dibulan ramadhan kita mengadakan buka bersama disalah satu lokasi kuliner terkenal dikota bandung, mungkin dari acara itu kita mulai dekat, mungkin dengan cara itu Allah dekatkanmu pada diri ini dan sahabat-sahabat ulat lainnya yang haus akan Qalam Allah, Ilmu Allah.

Semakin dekat saat kita mendapat mata pelajaran  Kerja Praktek perkuliahan, saat itu engkau semakin sering mengikuti mentoring keagamaan, hingga akhirnya engkau belajar bagaimana menjadi kupu-kupu indah dunia dan akhirat, engkau belajar tentang Aqidah, engkau mulai mengenal tuhanmu, Allah dan agamamu, Islam. tak lupa kau perlahan balajar merajut setiap helai benang agar engkau menjadi sosok kepompong, sekarang, saat ini.

Engkau berhijrah wahai ulat, sahabatku..

Mungkin hijrahmu tak seperti Sayidina Umar bin Khatab, sang Ulul ‘Amri yang hanya dibacakan sepuluh ayat pertama dari surat At-Thaha iya langsung beriman, mungkin hijrahmu tak seperti Abu Zar Alghifari yang saat iya mendengar kenabian Rasulullah saat itu juga iya langsung mancari tahu kebenarannya dan menuju mekah hingga akhirnya ia mengucapkan syahadat dihadapan Rasulullah SAW. Engkau hanyalah seorang hamba akhir zaman, yang berhijrah tentang Aqidahmu yang lemah, bukan kah begitu?

Ulat, engkau sekarang telah menjadi kepompong yang indah dilihat dengan iman, engkau indah dilihat dengan hati yang bersih, tetaplah terjaga didalamnya, hingga engkau menjadi kupu-kupu yang cantik nan rupawan di Surga-Nya kelak. Tetap lah menjadi kepompong yang selalu menjaga kesucianmu seperti halnya Mariam ibunda Isa AS, tetaplah menjadi kepompong yang selalu sabar dan rendah diri layaknya Aisyiah istri dari fir’aun yang menyelamatkan Musa As, tetaplah menjadi kepompong yang pandai nan anggun layak nya Aisyah ibni Abu Bakar Ash-Shiddik, istri Rasulullah SAW dam tetaplah menjadi kepompong yang berani lagi tangguh layaknya Fatimah ibni Muhammad SAW. Karena mereka saat ini telah menjadi kupu-kupu yang cantik nan indah bersama-Nya.

Semoga Allah selalu bersama dan menjagamu wahai sahabatku, tetehku,

Salam dari sahabatmu, adindamu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s