Ufo Dalam Pandangan Islam


Assalamu’alaikum..
haiii sahabat,, dalam artikel kali ini saya akan membahas tentang sudut pandang islam dalam menyikapi UFO,, jujur saya juga masih penasaran dengan ada nya UFO, karena Allah telah menciptakan begitu Luasnya Alam semesta ini,, tapi masalahnya adalah :
“Allah menciptakan begitu banyak galaxi di alam semesta ini tapi hanya satu galaxi yang memiliki kehidupan <dihuni> yaitu BimaSakti,, dan itu pun hanya satu planet yang bernama “Bumi” yang dihuni oleh makhluk hidup,, bukan kah Allah tidak suka dengan “berlebih-lebihan”?? Wallahu a’lam bishowab.”
yuk kita cermati lagi ayat-ayat dalam Al-Qur’an
siapa yang tak percaya dengan kebenaran Kitab Suci umat manusia (Al-Qur’an).. semua mempercayai kebenarannya karena Al-Qur’an merupakan Mu’jizat terbesar sepanjang peradaban dunia. salah satu keistimewaan nya adalah kemungkinan penafsiran yang terus berkembang dan penafsiran tersebut selalu UpTODate, salah satu contohnya ialah surat Ar-Ra’du <13> ayat15..
“Dan hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) “Man” yang ada di langit dan di Bumi, baik dengan kemauan sendiri (taat), ataupun terpaksa, begitupula bayang-bayangnya (ikut sujud) di pagi dan petang hari” (Ar-Ra’du <13> ayat15).
ayat di atas menjelaskan adanya “Man” yang da di langit dan bumi,, masalah nya siapakah “Man” yang dimaksud?? mari kita bahas..
  1.  “Man” dalam tata bahasa Arab berarti “makhluk yang diberakal” sementara makhluk berkal yang diciptakan oleh Allah SWT adalah Malaikat, Iblis, Jin dan Manusia, sementara makhluk lainnya seperti hewan, tumbuhan dan benda mati lainnya di sebut “Maa”. Jika di terjemahkan dalam bahasa Indonesia kata “Man” berarti “siapa” dan “Maa” berarti “Apa”.
  2. Ciri-ciri “Man” yang dimaksud di dalam ayat di atas adalah:
    a) Sujud dengan taat kepada Allah;
    b) Sujud dengan terpaksa kepada Allah; dan
    c) Memiliki bayang-bayang.
    Ayat tersebut berbunyi: Walillahi yasjudu Man fi ssamaawaati wal ardhi, jika diterjemahkan menjadi: Dan kepada Allah “Man” di langit dan di Bumi bersujud/beribadah. Itu bunyi paragraf pertama dari ayat tersebut.
          Paragraf ini menjelaskan adanya “Man” di langit dan di Bumi, yang pastinya bersujud/beribadah hanya kepada Allah. Lalu dilanjutkan dengan kalimat “Thou’an wa karhan wa dzilaluhum” jika diterjemahkan menjadi “Taat, dan terpaksa, dan bayang-bayang mereka” kalimat ini menjelaskan cirri-ciri “Man” yang dimaksud pada kalimat pertama. Bahwa sujud/ibadahnya si “Man” yang dimaksud di atas kadang kala taat, kadang terpaksa, dan mereka memiliki bayang-bayang.
3. Perlu diketahui lagi bahwa kata “As-samaawaati” pada ayat ini berbentuk jamak. Sehingga menjadi petunjuk bahwa “Man” yang berada di luar planet Bumi akan tersebar di banyak planet lain.4. Jika melihat ciri-ciri diatas maka tidak mungkin yang dimaksud “Man” di dalam ayat tersebut adalah Malaikat, karena Malaikat selalu patuh kepada Allah, tidak pernah terpaksa, dan tidak memiliki bayang-bayang.

5. Juga tidak mungkin yang maksud “Man” di dalam ayat tersebut adalah Iblis, karena Iblis tidak pernah taat kepada Allah serta tidak memiliki bayang-bayang.

6. Dan tidak mungkin pula yang dimaksud “Man” di dalam ayat tersebut adalah Jin. Walaupun ada Jin yang taat dan terpaksa, tetapi Jin tidak memiliki bayang-bayang.

7. Maka yang dimaksud dengan “Man” pada ayat tersebut adalah makhluk seperti manusia. Yaitu mahkluk yang kadang kala taat, atau terpaksa serta memiliki bayang-bayang. Oleh sebab itu, ayat tersebut menjadi petunjuk adanya makhluk berakal seperti manusia di luar planet Bumi.

Disamping “Man”, di luar planet Bumi pun Allah swt pun menciptakan “Maa” dari kelompok binatang melata. Sebagaimana firman Allah swt di dalam surat An-Nahl (16) ayat 49.

Dan hanya kepada Allah-lah sujud “Maa” yang melata yang ada dilangit dan “Maa” yang melata yang ada di Bumi. Dan para Malaikat, dan mereka tidak menyombongkan diri. (QS 16:49).

Ayat tersebut menjelaskan adanya “Maa” dan “Malaikat” di langit dan di Bumi yang selalu sujud kepada Allah serta tidak sombong. Pada ayat ini tidak ada istilah terpaksa, sebagai bukti bahwa Malaikat dan “Maa” selalu sujud dengan taat kepada Allah swt.

Mengakhiri pembahasan tentang makhluk di luar Bumi maka silahkan simak firman Allah swt di dalam surat Asy-Syura (42) ayat 29.

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah menciptakan langit dan Bumi dan “Maa” yang melata yang Ia sebarkan pada keduanya. “Dan Ia Maha Kuasa untuk mengumpulkan <mempertemukan> semuanya < makhluk dan bumi> apabila Ia berkehendak” <QS 42 ayat 29>

Ayat tersebut menjadi petunjuk adanya kemungkinan pertemuan (interaksi) antara manusia yang ada di langit dengan manusia yang ada di Bumi bahkan kemungkinan saling berjodoh, tentunya jika Allah swt sudah berkehendak. Wallahu a’lam bishowab.

Sumber:
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s